Berita

 MATAHARI PAPUA

Venue: Graha Bhakti Budaya

Tanggal : 7 s.d 9 Juni 2024

Jam Pertunjukan :  Jumat = 19.30 WIB  •  Sabtu = 13.00 WIB & 19.30 WIB  •  Minggu  = 13.00 WIB

 

TEATER KOMA, produksi ke-230, 2024

 

Naskah Karya: N. Riantiarno

Sutradara: RANGGA Riantiarno

 

Info Tiket:

 0821 22 7777 09 • 021 735 0460 • This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.

 

 Tiket Online:

 www.teaterkoma.org

 

HTM:

 Rp. 175.000| Rp. 275.000 | Rp. 400.000 | Rp. 525.000 | Rp. 725.000 | Rp. 975.000

 

Periode penjualan EARLY BIRD:

EARLY BIRD 1 (disc. 25%) :
21 Mei
2024 (dimulai pukul 00.01 WIB dini hari) s.d 22 Mei 2024 (selesai pukul 11.59 WIB siang hari)

EARLY BIRD 2 (disc. 10%) :
22 Mei
2024 (dimulai pukul 12.01 WIB siang hari) s.d 28 Mei 2024 (selesai pukul 11.59 WIB siang hari)

 


TIKET TERBATAS

Harga Normal
dimulai Selasa, 28 Mei 2024, pukul 12.01 WIB.

 

 PEMAIN:

TUTI HARTATI • NETTA kusumah Dewi • joind bayuwinanda • rita matu mona

DAISY LANTANG  • LUTFI ARDIANSYAN • bayu dharmawan saleh • angga yasti

DANA HASSAN • andhini puteri • sir ilham • adri prasetyo • dodi gustaman • DLL.

 

Pekerja:

Co -Sutradara : NINO BUKIR • penata musik: fero a. Stefanus

Penata artistik & Multimedia : Deden Bulqini • penata cahaya: deray setyadi

penasehat rias & Rambut : subarkah hadisarjanapenata gerak: ratna ully

penata rias & rambut: sena sukaryapenata busana: RIMA ANANDA

Pengarah Teknik: TINTON PRIANGGORO • Instruktur Vokal: AJENG DESTRIAN

Perancang Grafis: SAUT IRIANTO MANIK • Manajer Panggung: SARI MADJID

Pimpinan Produksi: RASAPTA CANDRIKA • Produser : RATNA RIANTIARNO

 

 

Sinopsis

Pada suatu masa di pedalaman Kamoro, Papua, sepasang suami istri, ditemani 3 kakak sang istri, menaiki perahu dari desa Kamoro menuju ke hilir sungai, mencari sagu agar bisa dipanen warga desa. Tapi, nasib buruk menimpa. Mereka bertemu NAGA jahat, yang melahap segala. Semua terbunuh.

Yang selamat hanya sang istri. Dia berhasil lolos dan menetap di sebuah gua, dekat gua seorang Dukun, KORERI. Beberapa bulan kemudian, wanita itu, YAKOMINA, melahirkan anak. Si Dukun itu menolongnya. Yakomina tak mau pulang, dia mengurusi anaknya hingga besar. Pemuda itu diberi nama BIWAR.

Tak terasa, 25 tahun telah berlalu. Biwar tumbuh di daerah tepi sungai menjadi pria yang hebat berkat bimbingan Mama dan Dukun. Satu hari, saat sedang menyusuri sungai untuk mencari ikan, Biwar menolong seorang gadis, NADIVA, yang hendak dimakan TIGA BIAWAK. Biwar dengan mudah mengalahkan monster-monster itu. Tiga Biawak lari. Keduanya berkenalan, dan saling jatuh cinta. Keduanya berjanji untuk bertemu lagi.

Saat Biwar pulang, Yakomina tahu bahwa sang anak sudah mencapai daerah kekuasaan Naga, tempat di mana Papa Biwar kehilangan nyawanya. Sang Mama lalu berkisah tentang bagaimana Papa Biwar dilahap Sang Naga. Amarah Biwar memuncak.

Tapi Dukun menenangkan. Sang Naga kini sudah punya anak buah, selain Tiga Biawak, masih ada BUAYA dan BURUNG HITAM. Dukun mengatakan akan ada waktu yang tepat bagi Biwar untuk memasuki kawasan monster-monster itu, dan membunuh Naga.

Nadiva ternyata berasal dari desa Kamoro. Hubungan rahasia Biwar dan Nadiva diketahui penduduk desa. Mereka tidak setuju hubungan dengan orang luar itu. Semua lalu mendatangi Biwar dan meminta pertanggungjawabannya. Nyaris terjadi perkelahian.

Beruntung, muncul Sang Dukun, Koreri, yang melerai pertikaian tersebut. Beliau malah meminta agar penduduk membantu Biwar. Akhirnya, penduduk patuh dan ikut Biwar memasuki kawasan kekuasaan Naga. Tujuan mereka, membunuh Naga. Apakah akhirnya mereka akan terbebas dan merdeka dari Naga?

Ini lakon Teater Koma, kisah nyanyian dan tarian kawasan timur, Papua. Kisah yang mengharukan. Kisah kemerdekaan dan kebebasan. Lakon hilangnya Sang Naga.

 

Synopsis

Once upon a time, deep in the Kamoro inland of Papua, a husband and wife couple, accompanied by three of the wife’s older brothers, from the Kamoro village, took a boat downstream along the river, searching for sago to be harvested by the villagers. But, misfortune befell them. They ran into the evil DRAGON, devourer of all things. Everyone was killed.

The only survivor was the wife. She managed to escape and stayed in a cave near the cave of the Shaman, KORERI. Some months later, the woman, YAKOMINA, gave birth to a child. The Shaman aided her. Yakomina decided not to go back to her village, she brought up her child into adulthood. The young man’s name is BIWAR.

Now, 25 years have passed. Through the guidance of Mama and the Shaman, Biwar grows up into an incredible man. One day, while exploring the riverside to look for fish, Biwar rescues a girl, NADIVA, who was about to be devoured by THREE BIAWAKS (Water Monitor Lizards). Biwar easily defeats the monsters, driving them away. The two youths get acquainted, and fall in love. Both promise to meet again.

When Biwar gets home, Yakomina realizes that the boy has reached the Dragon’s dominion, where Biwar’s Papa lost his life. Mama then tells the story of how Biwar’s Papa was eaten by the dragon. This sparks Biwar’s fury.

But the Shaman calms him down. The Dragon has underlings now, aside from the Three Water Monitor Lizards, there still exist the CROCODILE and the BLACK BIRD. The Shaman says the right time will come for Biwar to enter the territory of the monsters, and kill the Dragon.

Meanwhile, it turns out that Nadiva is from the Kamoro village. The villagers become aware of the secret relationship between Biwar and Nadiva. They do not consent to the idea of Nadiva seeing a person from outside the village. Everyone then comes to Biwar demanding his accountability. A fight nearly erupts.

Fortunately, the Shaman, Koreri, appears to stop the conflict. He even orders the villagers to assist Biwar. In the end, the villagers heed his request to join Biwar in entering the Dragon’s dominion. Their purpose, to kill the dragon. Will they finally be liberated and free from the Dragon?

This is a Teater Koma stage play, a story filled with songs and dances inspired by The Land in the East, Papua. A poignant story. An epic of liberation and freedom. A tale about how the Dragon vanishes.

 

 

 

RORO JONGGRANG

Venue: Graha Bhakti Budaya

Tanggal : 14 - 16 Oktober 2022

 

Jam Pertunjukan :  Jumat = 19.30 WIB  •  Sabtu = 13.00 WIB & 19.30 WIB  •  Minggu  = 13.00 WIB

 

TEATER KOMA, produksi ke-225, 2022

 

Naskah Karya & Sutradara: N. Riantiarno

 

Info Tiket:

 0821 22 7777 09 • 021 735 0460 • This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.

 

 Tiket Online:

 www.teaterkoma.org

 GO-TIX.id

 

 

HTM:

 Rp. 150.000| Rp. 200.000 | Rp. 300.000 | Rp. 450.000 | Rp. 650.000

 

 Pemain:

  

SEKAR DEWANTARI • RANGGA RIANTIARNO • budi ros • RATNA RIANTIARNO

RITA MATUMONA • DAISY LANTANG  • SUNTEA SISCA • DANA HASSAN • DLL.

 

 

Pekerja:

penata artistik: idries pulungan penata musik: fero a. Stefanus

penata cahaya: deray setyadipenasehat rias: subarkah hadisarjana

Multimedia: DEDEN BULQINI • penata gerak: ratna ully

penata rias & rambut: sena sukaryapenata busana: RIMA ANANDA

Pengarah Teknik: TINTON PRIANGGORO • Instruktur Vokal: AJENG DESTRIAN

Perancang Grafis: RA7DIKA • Manajer Panggung: BAYU DHARMAWAN SALEH

Pimpinan Produksi: RATNA RIANTIARNO

 

Sinopsis

 

RORO JONGGRANG, putri Kerajaan Boko, terpaksa menerima sebuah lamaran. Datangnya bukan dari sembarang orang. Sang pelamar adalah BANDUNG BONDOWOSO, Putra Mahkota Pengging. Masalahnya, dia juga yang telah menyerbu Boko, sekaligus membakar habis Raja dan Ratu Boko, orangtua Roro Jonggrang.

Roro Jonggrang tidak tertarik pada lamaran raja-raja. Dia tak ingin jadi Permaisuri Raja. Dia hanya ingin punya kekasih rakyat biasa, bukan pangeran ataupun raja. Apalagi yang melamar kali ini sudah dia anggap sebagai musuh besar. Dendamnya membara.

Maka, lamaran diterima, dengan dua syarat. Yang pertama, Putra Mahkota harus membuat Sumur Jalatunda di atas Gunung Boko, pada satu pagi. Dan besok malamnya, Putra Mahkota harus membangun Seribu Candi, harus rampung dalam satu malam.

Dengan bantuan para lelembut, Sumur Jalatunda bisa dibangun. Kemudian, mulai membangun Seribu Candi, tetap dengan bantuan para lelembut. Nampaknya, dua syarat itu akan bisa dipenuhi. Roro Jonggrang mulai cemas. Dia memang tidak mau jadi istri Bandung Bondowoso. Dia mulai mencari akal untuk menggagalkan pembangunan Seribu Candi.

Kesaktian luar biasa yang dimiliki Bandung Bondowoso, ternyata bisa dijegal oleh tipu muslihat. Kisah ini menjadi bukti, bahwa kecurangan sudah ada sejak jaman dulu kala. Cinta, ternyata bisa dikalahkan oleh kecurangan.

 

Synopsis

RORO JONGGRANG, the princess of Boko Kingdom, accepts a proposal reluctantly. It came from not just anyone. The proposal came from BANDUNG BONDOWOSO, the Crown Prince of Pengging. The problem, he’s the one who had invaded Boko, and had also set ablaze the Boko King and Queen, Roro Jonggrang’s parents.

Roro Jonggrang is not interested with proposals from kings. She doesn’t want to be married to a King. She just wants a commoner husband, not a prince or a king. Even more so, the proposal came from a man whom she sees as her archenemy. Her desire for vengeance burns.

So, the proposal is accepted, with two requirements. The first, the Crown Prince must make the Jalatunda Well atop of Mount Boko, in the morning. Then, the night after, the Crown Prince must make The One Thousand Temples, done in one night.

With the aid of spirits, the Jalatunda Well is completed. Then, the building of The One Thousand Temples commences, still with the help of the spirits. It seems as though those two requirements will soon be met. This troubles Roro Jonggrang. In truth, she does not want to become Bandung Bondowoso’s wife. She starts devising plans to halt the construction of The One Thousand Temples.

It turns out, Bandung Bondowoso’s extraordinary powers falls victim to deception. This story is proof, that fraudulence has existed since long ago. Love, it turns out, can be swindled by deception and fraudulence.

 

Empat sutradara wanita dan empat lakon untuk #TeaterKomaPentasDiSanggar.
.
Sebuah upaya eksplorasi kreatif, bagian dari perjalanan panjang Teater Koma sebagai sebuah kelompok seni pertunjukan teater.
.
Masing-masing membawa visi dan interpretasi unik bagi empat lakon teater yang mereka garap. Masing-masing menempuh perjalanan kreatif yang berbeda dalam menyikapi lakon yang mereka tangani, demi menyajikan tontonan yang menarik tapi tetap penuh makna.
.
SARI MADJID: Sutradara lakon Padang Bulan karya N. Riantiarno. Jadi anggota Teater Koma sejak masa-masa awal. Tahun 1988 hingga 2004, memerankan tokoh Engtay dalam lakon Sampek Engtay. Tahun 2013, memerankan tokoh Ibu Brani dalam lakon Ibu. Sebagai sutradara, menyajikan perpaduan musik dan multimedia untuk lakon Padang Bulan, yang berkisah tentang perwujudan Rembulan pada berbagai masa dan kebudayaan.
.
RITA MATU MONA: Sutradara lakon Siti Seroja karya N. Riantiarno. Jadi anggota Teater Koma sejak masa-masa awal. Tahun 1988 hingga 2004, memerankan tokoh Suhiang dalam lakon Sampek Engtay. Tahun 2014, memerankan tokoh Cangik dalam lakon Republik Cangik. Sebagai sutradara, menghadirkan suasana tahun ‘70-an dalam lakon Siti Seroja lewat akting para pemain, didukung set panggung yang realistik.
.
PALKA KOJANSOW: Sutradara lakon Arsena karya N. Riantiarno. Naik pentas bersama Teater Koma sejak tahun 2013 di lakon Ibu. Tahun 2014, memerankan tokoh MC dalam lakon Republik Cangik. Sebagai sutradara lakon Arsena, memunculkan pandangan ekstentrik tokoh pelukis terhadap dunia sekelilingnya dengan dukungan artistik ciamik yang juga tidak kalah unik dan eksentrik.
.
SEKAR DEWANTARI: Sutradara lakon Arkanti karya N. Riantiarno. Naik pentas bersama Teater Koma sejak tahun 2013 di lakon Ibu. Tahun 2017, memerankan tokoh Poli Picum dalam lakon Opera Ikan Asin. Sebagai sutradara lakon Arkanti, berharap kisah tokoh utama yang tak mampu mewujudkan jati dirinya, karena selama ini terkekang oleh berbagai aturan, bisa jadi cermin dalam mencermati kondisi kita saat ini.

Link untuk menonton:

ARSENA: https://youtu.be/DL0uvxxOMJ8

ARKANTI: https://youtu.be/vLgsbZn7_dY

SITI SEROJA: https://youtu.be/Ri3AhMJoCRc

PADANG BULAN: https://youtu.be/LFljXmWICLY
.
#DigitalisasiKoma2021 #PerempuanBerkarya #TeaterKomaPentasDiSanggar

 

FESTIVAL 44, bagian dari perayaan HUT ke-44 Teater Koma, sebuah festival yang berlangsung selama 4 bulan. Berisikan tayangan-tayangan daring karya Teater Koma, terdiri dari dokumentasi lakon-lakon yang sudah pernah dipentaskan, dan juga pementasan baru di tahun 2021 ini.
.
Program-programnya adalah:
.
#NontonTeaterKomaDiRumah​
Tiga judul pentas monumental dalam sejarah Teater Koma:
- OPERA PRIMADONA sebagai salah satu lakon bersejarah untuk Teater Koma, cerita yang menawan diiringi lagu dan tari yang indah.
- IBU, saduran dari naskah Bertolt Brecht, digarap secara kolosal. Salah satu pentas Teater Koma dengan detail terperinci pada artistiknya.
- J.J "SAMPAH-SAMPAH KOTA", merupakan pentas langsung terakhir Teater Koma sebelum masa pandemi. Pentas ini digelar di gedung Graha Bhakti Budaya, yang telah diratatanahkan untuk renovasi.
.
#Savitri​
Persembahan terbaru dari Teater Koma. Sebuah cerita dari Saga Mahabarata.
.
Alkisah, Savitri menikahi Setiawan, pria pilihannya sendiri. Kebahagiaan mereka tak berlangsung lama. Nyawa Setiawan direnggut Batara Yamadipati.
.
Savitri tak menyerah. Dia ikuti Batara Yamadipati ke manapun dia pergi. Apa akal Savitri agar Sang Dewa Maut mau menghidupkan kembali Setiawan?
Naskah & Sutradara : N. RIANTIARNO
.
#TeaterKomaXKaryaKarsa​
Menayangkan dokumentasi pementasan melalui layanan situs dan aplikasi Karya Karsa selama 3 bulan. Setiap bulan, akan ada 4 judul pementasan yang ditayangkan sebulan penuh.
.
#TeaterKomaPentasDiSanggar​
Empat naskah baru yang akan direkam di sanggar Teater Koma.
.
#MonologTeaterKoma​
Tiga monolog yang punya nilai historis, menguak sejumlah fakta di balik perjalanan tiga figur penting dalam perjalanan kreatif Teater Koma, yaitu N. Riantiarno, Ratna Riantiarno dan Syaeful Anwar.
.
.
#Festival44​ #TeaterKoma

 

 

 

#DigitalisasiKoma: Sebuah Upaya Karya Dalam Pandemi

Tetap menatap masa depan dengan penuh harapan. Itu sikap kami. Salah satunya adalah dengan #DigitalisasiKoma. Karena teater bisa dibuat dengan cara apa saja, di mana saja, kapan saja, tanpa mengalah pada keadaan.

Dengan rangkaian program bertagar berikut:


#NontonTeaterKomaDiRumah – menikmati tayangan video rekaman sejumlah pentas Teater Koma melalui perangkat digital.

Sie Jin Kwie Kena Fitnah (2011)
Sabtu, 3 Oktober 2020

Opera Kecoa (2016)
Sabtu 17 Oktober 2020

Semar Gugat (2016)
Sabtu, 31 Oktober 2020

 

#NyanyiLaguTeaterKoma – mempersembahkan kembali lirik-lirik dari lagu yang ditulis N. Riantiarno untuk pentas-pentas Teater Koma, menggunakan komposisi yang selalu digunakan dalam pentas-pentas tersebut, dibawakan oleh sahabat-sahabat yang bertalenta. Menunjukkan bahwa lirik lagu karya N. Riantiarno tidak dibuat terpisah dari naskah, karena menjadi satu jalinan narasi yang sambung-menyambung hingga akhir kisah, tapi saat disajikan sebagai lagu tunggal, tetap memiliki pesonanya sendiri.

KLIK DI SINI untuk melihat playlist tayangan #NyanyiLaguTeaterKoma

atau dilihat per lagu sbb:

Gabriel Harvianto - TAKDIR PRIMADONA
Lirik : N. Riantiarno
Komposisi Lagu : Idrus Madani
Aransemen Lagu : Fero A. Stefanus

Louise Monique - DAN PEREMPUAN
Lirik : N. Riantiarno
Komposisi Lagu : Idrus Madani
Aransemen Lagu : Fero A. Stefanus

Netta Kusumah Dewi - ISTIRAHAT
Lirik : N. Riantiarno
Komposisi Lagu : Embie C. Noer
Aransemen Lagu : Fero A. Stefanus

Slamet Rahardjo Djarot - HASRAT BATARA GURU
Lirik : N. Riantiarno
Komposisi & Aransemen : Fero A. Stefanus

 

#TeaterKomaPentasDiSanggar – naskah-naskah baru berdurasi pendek yang direkam di sanggar Teater Koma pada masa pandemi dan disajikan di berbagai jalur media sosial Teater Koma

KLIK DI SINI untuk melihat playlist tayangan #TeaterKomaPentasDiSanggar

bisa juga disaksikan per judul sbb:

CINTA ITU
Naskah: N. Riantiarno
Sutradara : Ohan Adiputra

SEKADAR IMAJINASI
Naskah & Sutradara: Rangga Riantiarno

PANDEMI
Naskah: N. Riantiarno
Sutradara: Budi Ros

WABAH
Naskah: Budi Ros
Sutradara: Rangga Riantiarno

 

 Ikuti terus kanal youtube Teater Koma dan media sosial kami, agar tidak ketinggalan konten dan karya-karya terbaru .

 

#PentasAkhirTahunTeaterKoma – sebuah lakon yang digelar di sebuah panggung pertunjukan, dengan kemasan artistik khas Teater Koma, yang akan disajikan di berbagai perangkat digital

Persembahan beragam karya dengan perspektif baru, lewat media digital. Berkreasi tanpa henti, tidak pernah titik, selalu Koma.

 Naskah karya N. Riantiarno dan sutradara Idries Pulungan. Kisah berawal di Observatorium Bosscha Lembang, dua ilmuwan tua bernama Arjuna dan Chan Lan Nio bersiap-siap menyambut kedatangan seorang tamu istimewa. Dia adalah Sri Ratu Saspikaraturnakasih dari Planet Pispakanakasssuah, didampingi penasehat sekaligus pengawal pribadinya, Ababakababa.

Sang Ratu datang untuk menyampaikan pesan bagi Arjuna. Bahwa Sumbadra, wanita dari planet Ssumvitphphpah yang dicintai Arjuna, mungkin akan datang lagi ke Bumi. Nampaknya Sumbadra sudah bisa menemui Arjuna, karena perang yang melanda planetnya telah usai.

Namun, hanya itu sajakah tujuan Sri Ratu? Ataukah dia juga memiliki maksud hati lain terhadap Arjuna? Apakah Arjuna akan tetap menunggu Sumbadra? Bagaimana dengan Chan Lan Nio, yang hingga tua rela menemani Arjuna bekerja di Lembang?

Cinta dari Sumbadra dan Chan Lan Nio, Arjuna harus memilih siapa?

CINTA SEMESTA dapat disaksikan pada hari:
Sabtu, 12 Desember 2020, pukul 13.00 dan 19.30 WIB
Minggu, 13 Desember 2020, pukul 19.30 WIB
Live stream: LOKETLIVE dan GO-PLAY
Durasi: 99 menit
................................

 

 

 

 

SAMPEK ENGTAY

Venue: CIPUTRA ARTPRENEUR THEATER

Tanggal : 5 - 6 Maret 2022

 

Jam Pertunjukan :  Sabtu = 13.00 WIB & 18.30 WIB dan Minggu  = 13.00 WIB & 18.30 WIB

 

TEATER KOMA, produksi ke-223, 2022

 CIPUTRA ARTPRENEUR THEATER

 

Naskah Karya & Sutradara: N. Riantiarno

 

Info Tiket:

 0821 22 7777 09 • 021 735 0460 • This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.

 

 Tiket Online:

 www.teaterkoma.org

 GO-TIX.id

 www.blibli.com

 

 

HTM:

 Rp. 150.000| Rp. 200.000 | Rp. 300.000 | Rp. 450.000 | Rp. 550.000 | Rp. 850.000

 

 

Sejak 2020, pementasan Teater Koma SAMPEK ENGTAY telah tertunda dua tahun. Tapi, ada 1200 tiket yang belum dikembalikan, masih disimpan oleh pembelinya.

Waktu berjalan, Teater Koma pun kembali berproses. Tujuannya, menggelar 4 kali pentas SAMPEK ENGTAY pada 12-13 Februari 2022 di Ciputra Artpreneur Theater. Tentu saja, pentas digelar dengan tetap menjalankan prokes yang berlaku, di mana penonton yang hadir adalah 25% dari kapasitas gedung. Sekarang, karena PPKM level 3, pentas harus diundur lagi ke 5-6 Maret 2022. Tapi kami optimis bisa segera berjumpa dengan Anda sekalian penonton budiman.

Dengan kapasitas yang terbatas tersebut, maka kami tidak menjual tiket lagi, berpentas hanya untuk mereka yang sudah membeli tiket sebelumnya. Inilah cara Teater Koma menanggapi dukungan dan kepercayaan para pemegang tiket yang selama dua tahun tetap setia menanti lakon SAMPEK ENGTAY naik panggung.

 

 Pemain:

   TUTI HARTATI – RATNA RIANTIARNO – LUTFI ARDIANSYAH 

 BAYU DHARMAWAN – BUDI ROS – DAISY LANTANG – EMANUEL HANDOYO

  – ANGGA YASTI – HENGKY GUNAWAN

 ANDHINI PUTERI – SIR ILHAM JAMBAK – RANGGA RIANTIARNO – dll.

 

Pekerja:

 Co-Sutradara: OHAN ADIPUTRA • Penata Artistik: IDRIES PULUNGAN

 Penata Musik: FERO A. STEFANUS • Penata Rias: SUBARKAH HADISARJANA

 Penata Cahaya: DERAY SETYADI • Penata Gerak: RATNA ULLY

 Penata Busana: RIMA ANANDA •  Penata Rambut: SENA SUKARYA

 Penata Suara: MATT PALLO • Pengarah Teknik: TINTON PRIANGGORO

 Perancang Grafis: ra7dika • Instruktur Vokal: NAOMI LG

 Manajer Panggung: SARI MADJID • Pimpinan Produksi: RATNA RIANTIARNO

 

Sinopsis

 Dengan berbagai akal, ENGTAY berhasil meyakinkan kedua orangtuanya bahwa sekolah itu penting dan baik. Akhirnya, gadis itu pun diizinkan pergi menuntut ilmu ke Betawi. Meski untuk itu, dia harus menyamar sebagai seorang lelaki muda. Dalam perjalanan, Engtay berkenalan dengan SAMPEK. Pemuda itu juga berniat menuntut ilmu di sekolah yang sama. Atas inisiatif Engtay, mereka berdua sepakat saling mengangkat saudara.

 Di asrama, Engtay ditempatkan satu kamar dengan Sampek. Rupanya, penyamaran Engtay sangat berhasil. Tidak seorang pun menyangka, bahkan juga Sampek, kalau Engtay itu perempuan.

 Asmara tumbuh. Dan akhirnya Engtay mengaku kepada Sampek mengenai kenyataan yang sebenarnya. Bahkan, dia nyaris menyerahkan diri kepada Sampek. Cinta bermula ada lantaran Engtay geregetan terhadap kejujuran -- yang disebutnya sebagai kebodohan -- lelaki muda itu. Ternyata, selama hampir setahun, Sampek tetap tidak mengira dia sudah tidur seranjang dengan seorang gadis. Dia lebih suka menekuni buku-buku pelajaran, daripada plesiran.

 Tapi Sampek tidak beruntung. Cintanya membentur tembok. Tepat saat dia menyatakan siap mencinta, Engtay dipanggil pulang. Si gadis akan dinikahkan dengan MACUN, anak seorang tuan tanah kaya dari Rangkasbitung. Sampek pun merana. Dan sakit cinta menyebabkan dia mati. Jasad Sampek dikubur, tapi sampai mati, dia tetap berharap suatu saat Engtay sudi menziarahi kuburannya.

 Macun memboyong Engtay ke kampungnya dengan tandu pengantin. Di tengah jalan, Engtay memohon agar rombongan berhenti sejenak di makam Sampek. Engtay ingin bersembahyang di kuburan itu. Dasar jodoh, begitu upacara sembahyang usai, kubur Sampek mendadak terbuka. Lalu dengan penuh cinta, Engtay melompat ke dalam kuburan. Dia menyatu dengan jasad kekasihnya.

 Macun marah besar. Dia membongkar kuburan. Tapi di dalam kuburan,  tak terdapat jasad Sampek maupun Engtay. Yang ada hanya dua batu biru dan dua tawon kuning. Ketika kubur digali lebih dalam lagi, muncul sepasang kupu-kupu yang segera mengepakkan sayap-sayap indah mereka, melayang terbang ke langit.

 Lalu, berjuta kupu-kupu memenuhi langit, menutup cahaya matahari, memayungi bumi, meneduhkan hati. Semua terkesima.

 

 

 

J.J

Sampah-Sampah Kota

Venue: GRAHA BHAKTI BUDAYA, PKJ – TIM

Tanggal : 8 s.d 17 November 2019

Jam Pertunjukan :  Senin – Sabtu = 19.30 WIB dan Minggu  = 13.30 WIB

 

TEATER KOMA, produksi ke-159, 2019

GRAHA BHAKTI BUDAYA

 

Naskah Karya: N. Riantiarno

Sutradara: RANGGA Riantiarno

 

Info Tiket:

0821 22 7777 09 • 021 735 0460 • This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.

 

Tiket Online:

www.teaterkoma.org

GO-TIX.id

www.blibli.com

 

HTM:

SENIN NOMAT

Rp. 60.000 | Rp. 80.000 | Rp. 120.000 | Rp. 180.000 | Rp. 240.000 | Rp. 320.000

Weekday (Selasa – Jumat)

Rp. 75.000 | Rp. 100.000 | Rp. 150.000 | Rp. 225.000 | Rp. 300.000 | Rp. 400.000

Weekend (Sabtu – Minggu)

Rp. 100.000| Rp. 150.000 | Rp. 225.000 | Rp. 300.000 | Rp. 400.000 | Rp. 500.000

 

Pemain:

idries pulungan • budi ros • Tuti hartati • DAISY LANTANG

RATNA ULLY • RAHELI DHARMAWAN • ADE FIRMAN HAKIM • ZULFI RAMDONI

DANA HASSAN • ANDHINI PUTERI • SEKAR DEWANTARI • dll.

 

 

Pekerja:

Asisten Sutradara: BAYU DHARMAWANpenata artistik: idries pulungan

penata cahaya: deray setyadipenata musik: fero a. Stefanus

penata gerak: ratna ullypenata rias & rambut: sena sukarya

penasehat rias & rambut: subarkah hadisarjanapenata busana: ALEX FATAHILLAH

Multimedia: DEDEN BULQINI • Pengarah Teknik: TINTON PRIANGGORO

Perancang Grafis: RA7DIKA • Instruktur Vokal: NAOMI LG

Manajer Panggung: SARI MADJID • Pimpinan Produksi: RATNA RIANTIARNO

Konsultan Kreatif : N. RIANTIARNO & OHAN ADIPUTRA

 

 

Sinopsis

 Jian dan Juhro adalah sepasang suami isteri. Mereka hidup di sebuah gubuk di kolong jembatan. Sehari-hari, seperti sebagian penghuni kolong jembatan lainnya, Jian bekerja sebagai kuli pengangkut sampah. Digaji harian. Tidak punya jaminan masa depan. Meski begitu dia tetap bekerja dengan jujur, rajin, giat dan gembira. Bersama Juhro, yang tengah hamil tua, dia hidup bahagia.

 Semua ini tak lepas dari pengawasan Mandor Kepala dan tiga mandor bawahannya, Tiga Pemutus. Mereka sudah mempelajari sekian banyak penghuni kolong jembatan. Hasil penyelidikan itu mengerucut kepada satu kandidat. Keberadaan Jian merupakan sebuah keunikan. Dan, mereka memutuskan, keunikan itu harus diuji. Semacam tes. Mereka ingin melihat sampai sejauh mana kejujuran Jian bisa bertahan.

 Suatu hari, Para Pemutus menjatuhkan sebuah tas berisi uang di sekitar tempat Jian bekerja. Melihat jumlah uang yang amat banyak dalam tas, Jian panik. Dia bertanya-tanya dalam hati, siapakah pemilik tas tersebut. Tapi, setelah pergumulan hebat, Jian merasa uang tersebut harus dikembalikan kepada pemiliknya. Dan ini, bagi Para Pemutus, sudah merupakan sebuah pemberontakan.

 

 

Synopsis

 Jian and Juhro are a married couple. They live in a shack under a bridge. Every day, just like most people living there, Jian works as a garbage worker. He is paid daily. His future is uncertain. Even so, he still works honestly, diligently, industriously and merrily. With Juhro, who is nearing childbirth, he lives happily.

This does not escape the surveillance of the Head Foreman and his subordinates, The Three Decision Makers. They have studied numerous people who live under the bridge. Which leads them to one candidate. The existence of Jian is something unique. And, they decided, that uniqueness must be verified. A kind of test. They want to see how far Jian’s honesty can persevere.

 One day, The Decision Makers drop a bag filled with money where Jian works. Seeing the amount of money inside the bag, Jian panicks. He wonders who does the bag belong to. But, after a long struggle, Jian feels that the money has to be returned to its owner. And this, to The Decision Makers, is an act of rebellion.

 

 

Subcategories