Berita

Setelah pagelaran sukses IBU di Graha Bhakti Budaya Taman Ismail Marzuki, 1-17 November lalu, kembali Teater Koma bersiap untuk menyuguhkan pentas terbaru. DEMONSTRAN adalah naskah yang sudah lama digarap Norbertus Riantiarno tapi belum mendapat saat yang tepat untuk diproduksi. Kini, sudah ditetapkan pula bahwa lakon ini akan digelar 1-15 Maret 2014.

Pertemuan pertama diadakan di sanggar Teater Koma pada hari Minggu, 15 Desember 2014. Anggota yang terlibat sudah mengambil naskah dan membaca hampir seperempat naskah untuk menyiapkan diri bagi sesi diskusi dan latihan yang akan dilakukan di hari-hari berikutnya. Sampai jumpa Maret 2014 di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jakarta.

Teater Koma menutup program Akhir Pekan di Museum dengan tiga kali pentas "Raksasa Bhairawa Sang Pengasah Parang" pada hari Minggu, 8 Desember 2013. Program yang diselenggarakan di Museum Nasional Indonesia ini termasuk juga Craft Day atau bazaar. Menampilkan lakon yang berhubungan dengan artefak yang berbeda tiap kali pentasnya, masih ada banyak lagi dari 140.000 artefak Museum Nasional yang belum dipentaskan.

Total ada 6 lakon yang kami pentaskan sejak September 2013 yaitu "Puputan Klungkung", "Samurai Bersepeda" (2 kali pentas), "Karamnya Kapal Tek Sing" (2 kali pentas), "Celengan Majapahit", "Kuda Perang Pangeran Diponegoro" serta "Raksasa Bhairawa Sang Pengasah Parang".

Terima kasih kami bagi Anda semua yang sudah datang mengunjungi pentas ataupun Craft Day. Semoga program Akhir Pekan di Museum kembali berlanjut di tahun 2014 agar kita bisa berjumpa lagi di Museum Nasional.

Teater Koma

Produksi ke-131
IBU (Mother Courage and Her Children)
Karya Bertolt Brecht
Sutradara N. Riantiarno

"Perang abad ke-17 yang tetap menjadi dasar politik masa kini"

Graha Bhakti Budaya TIM
1 s/d 17 November 2013
Pukul 19.30 WIB
(Catatan: hari Senin tetap ada pertunjukan, hari Minggu pukul 13.30 WIB)

HTM:
Weekend (Jumat - Minggu): 300 rb, 250 rb, wing 150 rb, balkon 100 rb
Weekday (Senin - Kamis): 250 rb, 200 rb, wing 100 rb, balkon 75 rb dan mahasiswa 50 rb

Info tiket:
Sekretariat Setiabudi 5251066 / 5224058.
Sekretariat Bintaro 7350460 / 7359540.
Ina: 081398818586
Suntea: 0818990579

Denah tiket juga bisa dilihat di situs kami: http://www.teaterkoma.org/

 

Sinopsis

Perang berkecamuk di seluruh benua. Negara yang mengusung bendera Matahari Hitam melawan negara lain yang mendukung Matahari Putih. Segalanya serba tidak pasti. Semua orang, tanpa terkecuali, jadi korban.

Ibu Brani menolak jadi korban. Dia justru mencium peluang bisnis. Bersama dua putra dan seorang putri bungsu yang bisu, mereka melintasi medan perang, menarik gerobak penuh barang dagangan.

Tidak peduli resimen Matahari Hitam atau Matahari Putih, semua boleh membeli barang dagangan Ibu Brani. Syaratnya? Bayar dengan uang. Ibu Brani bertekad meraup untung dari perang. Tapi, di akhir perang, apakah ada pihak yang betul-betul meraih untung?

War ravages the continent. Countries under the banner of The Black Sun battles the countries supporting The White Sun. Everything becomes uncertain. Everyone, without exception, falls victim.

Mother Courage refuses to become a victim. She instead sees a business opportunity. With her two sons and youngest daughter, who is a mute, they cross the battlefield, towing a wagon filled with merchandise.

Catering to both sides, The Black Sun and The White Sun regiments, anyone is welcome to buy the goods as long as they pay with cash. Mother Courage is determined to reap the benefits of war. But, at the end of any war, are there really winners?

 

Museum Nasional Indonesia bekerjasama dengan Produser Mystery of Batavia dan Teater Koma mempersembahkan Akhir Pekan @MUSEUM Nasional.

Program ini dirancang khusus untuk anak-anak, keluarga dan komunitas yang beraktifitas pada Hari Bebas Kendaraan Bermotor/car-free-day Jakarta. Setiap hari Minggu dari tanggal 8 September hingga 8 Desember 2013, kami akan memilih satu benda sejarah dari antara 140 ribu lebih artefak dalam koleksi museum.

Dari keris Puputan Bali hingga keramik kapal Tek Sing; dari emas raja-raja Medang sampai kehebatan soldadu sepeda Jepang --sejarah mereka bakal dipentaskan Teater Koma dalam dongeng berdurasi 15 menit.

Mau ikutan? Daftarkan dirimu mulai September ini di FB Akhir Pekan di Museum atau melalui twitter @museum_weekend

Usai mendaftar kamu tinggal menggowes sepedamu atau melangkahkan kaki di hari Minggu ke Museum Nasional Indonesia di Jalan Medan Merdeka Barat No. 12, Jakarta Pusat. Cari gedung yang ada patung Gajah di halamannya.

Biayanya gratis. Cukup dengan bayar tiket masuk ke museum Rp. 5.000/orang (Rp. 2.000/anak) kamu sudah bisa keliling museum sekaligus nonton Teater Koma melakonkan kisah-kisah seru masa lalu nusantara kita!

 

Jadwal Program September:

Pentas Dongeng TEATER KOMA

8 Sept -- Keris Puputan Klungkung

15 Sept -- Samurai Bersepeda

29 Sept -- Karamnya Kapal Tek Sing

Workshop

22 Sept -- Membuat keramik - Mencungkil kayu

 

Ikuti berita Akhir Pekan di Museum melalui media sosial:

Facebook: Akhir Pekan di Museum

Twitter: @museum_weekend

g+: This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.

Vimeo: akhirpekan.museum

Path: akhirpekan.museum

Hari Minggu pagi, sekitar pukul 07.00 WIB, 11 Agustus 2013, aktor Teater Koma bernama Dudung Hadi menghembuskan nafas terakhirnya. Bagi penonton Teater Koma, seorang Dudung Hadi sangatlah lekat dengan peran Sukiu, bujang Sampek yang lucu, dalam lakon SAMPEK ENGTAY. Peran itu sudah berpuluh kali dia mainkan sejak 1988. Bahkan pentas terakhirnya bersama Teater Koma adalah sebagai Sukiu, pada pentas ulang SAMPEK ENGTAY bulan Maret 2013 lalu di Gedung Kesenian Jakarta.

Pemunculannya dalam lakon lain pun senantiasa ditunggu, karena kepiawaian beliau mengocok perut penonton melalui tingkah dan banyolannya yang jenaka. Tapi bukan berarti dia tidak jago bermain serius. Tengok saja perannya sebagai penderita gangguan jiwa yang hobi menyanyi opera, Prof. Karuso, dalam KENAPA LEONARDO? Tidak ada sama sekali unsur improvisasi komedik, selalu penuh disiplin dalam mengucapkan dialog dalam naskah.

Disiplin merupakan ciri khas lain dari pria yang bekerja sebagai penyemprot insektisida ini. Rumahnya di Bekasi, perjalanan ke sanggar memakan waktu 4 jam, tapi beliau nyaris selalu tiba lebih awal satu jam sebelum latihan mulai di sanggar Bintaro. Begitu pun ketika turut ambil bagian selama 4 tahun dalam pentas keliling PETUALANGAN AGEN PENNY, beliau selalu tiba di setiap SD manapun di Jakarta dengan tepat waktu.

Lalu, beliau adalah teladan bagi anggota baru meski tak banyak memberikan wejangan. Cukup keakraban serta candaan ringan, terselip kebijakan usia dan pengalaman, yang tak henti dia berikan kepada rekannya, tua maupun muda, di Teater Koma. Kehilangan yang tidak akan pernah ada gantinya.

Selamat jalan, Dudung Hadi. Kami akan selalu merindukanmu.

Sebentar lagi, Teater Koma akan menggelar lakon terbaru. Judulnya IBU. Direncanakan pentas bulan November. Semoga pertemuan awal berjalan lancar dan proses selanjutnya juga tidak mendapat halangan. Saduran naskah Bertolt Brecht berjudul MOTHER COURAGE AND HER CHILDREN ini kolosal. Pastinya akan melibatkan banyak pemain seperti produksi besar Teater Koma lainnya.

Info selanjutnya menyusul. Sampai jumpa dalam pementasan IBU di Graha Bhakti Budaya TIM, bulan November nanti.

Tak terhingga rasa terima kasih kami kepada warga kota Semarang, yang datang berbondong-bondong menonton pertunjukan kami SAMPEK ENGTAY di Marina Convention Center pada tanggal 22-23 Juni lalu. Bahkan, banyak penonton yang ternyata baru pertama kali menonton teater. Sebuah kebanggaan tambahan untuk Teater Koma karena memperkenalkan seni pertunjukan teater bagi mereka.

Bagi Teater Koma, ini adalah sebuah pengalaman yang tidak akan terlupakan. Semoga lain kali kami beruntung mendapat kesempatan mengunjungi lagi kota yang ramah dan asri ini. Sampai jumpa dalam pertunjukan kami yang berikutnya.

Subcategories