DigitalisasiKoma: Sebuah Upaya Karya Dalam Pandemi

Tetap menatap masa depan dengan penuh harapan. Itu sikap kami. Salah satunya adalah dengan #DigitalisasiKoma. Karena teater bisa dibuat dengan cara apa saja, di mana saja, kapan saja, tanpa mengalah pada keadaan.

Dengan rangkaian program bertagar berikut:
#NontonTeaterKomaDiRumah – menikmati tayangan video rekaman sejumlah pentas Teater Koma melalui perangkat digital (Sie Jin Kwie Kena Fitnah, Opera Kecoa, Semar Gugat)

#NyanyiLaguTeaterKoma – penyajian lagu-lagu dari pentas-pentas Teater Koma dinyanyikan oleh sahabat-sahabat bertalenta, yang memperlihatkan bahwa saat menjadi sajian tunggal, tiap-tiap lagu masih tetap memiliki makna dan pesona

#TeaterKomaPentasDiSanggar – naskah-naskah baru berdurasi pendek yang direkam di sanggar Teater Koma pada masa pandemi dan disajikan di berbagai jalur media sosial Teater Koma

#PentasAkhirTahunTeaterKoma – sebuah lakon yang digelar di sebuah panggung pertunjukan, dengan kemasan artistik khas Teater Koma, yang akan disajikan di berbagai perangkat digital

Persembahan beragam karya dengan perspektif baru, lewat media digital. Berkreasi tanpa henti, tidak pernah titik, selalu Koma.

 

 

#NontonTeaterKomaDiRumah persembahan Teater Koma dan Bakti Budaya Djarum Foundation merupakan salah satu Program #DigitalisasiKoma agar kita tetap bisa menonton pertunjukan dari rumah selama masa Pandemi. Menayangkan rekaman dokumentasi video pementasan yang lalu.

SEMAR GUGAT merupakan pertunjukan yang telah dipentaskan di Gedung Kesenian Jakarta pada tahun 2016.

   Srikandi meminta mas kawin yang tak lazim. Arjuna, yang sudah terlanjur mengucap janji, dengan berat hati memenuhi permintaan calon pengantinnya itu. Mas kawin yang bikin geger itu adalah: pemotongan kuncung Semar pada saat pesta nikah dilaksanakan, disaksikan para undangan yang terhormat.

Semar merasa sangat terhina. Ia sungguh malu pada dunia. Bersama Bagong, ia  naik ke Kahyangan, menemui Batara Guru. Dimintanya kebagusan paras yang dulu pernah dimilikinya. Tak ada dewa yang sanggup menolak permintaan Semar. Dan meskipun permintaan itu dianggap sebagai hal yang melawan irama alam, Batara Guru tetap meluluskan.

Semar pun berubah wujud. Dia bergelar Prabu Sanggadonya Lukanurani, dan memerintah kerajaan Simpang Bawana Nuranitis Asri. Petruk dan Gareng diangkat menjadi pejabat kerajaan. Tapi isteri Semar, Sutiragen, menolak jadi permaisuri. Dia tak percaya Sanggadonya itu jelmaan Semar. Dengan setia, dia memilih tetap tinggal di kampung, menunggu suaminya pulang. Semar sedih, kecewa dan bertanya-tanya, di mana letak kesalahan langkahnya.

Semua keruwetan itu ternyata akibat ulah Betari Permoni dan Kalika. Rupanya Permoni berhasil masuk ke badan wadag Srikandi dan sukses mengacak-acak Amarta. Yudistira, Bima, Nakula, Sadewa dan Kresna pergi bertapa mencari jawaban serta pengampunan dewa-dewa. Mereka malu karena Semar dihina begitu. Sumbadra dan Larasati yang disingkirkan Permoni dari Amarta, bergabung dengan Prabu Sanggadonya. Tapi setan-setan Gandamayit, rakyat Permoni yang setia, semua boyong ke Amarta. Keadaan jadi semakin kisruh.

Sanggadonya, tak tahan lagi. Dia menantang adu sakti Arjuna-Srikandi. Semar akhirnya tahu, Permoni-lah Biang Kerok itu. Apa Semar berhasil? Kini, dia bukan hanya melawan Permoni saja, dia melawan seluruh setan Gandamayit.

Tapi, kentut Semar sudah tak ampuh lagi. Memang hanya Semar yang mampu mengempos kentut sakti, bukan Sanggadonya. Dia lalu meminta Dewa agar dikembalikan kepada wujud awal; Semar. Itulah jati dirinya yang asli. Semar.

SEMAR GUGAT dapat disaksikan pada hari
Sabtu, 31 Oktober 2020
Pukul 19.00 WIB
Live stream: LOKETLIVE dan GO-PLAY
…………………………………………..

Tiket Early Bird
Rp. 35.000
pembelian s.d 30 Oktober 2020 (11.59 WIB)

Tiket Harga Normal
Rp. 50.000

Serta dapat berdonasi untuk perkembangan kreatifitas Teater Koma dengan membeli tiket donasi.

Segera dapatkan tiketmu di www.teaterkoma.org & go-tix.id

Informasi 0821 22 7777 09