Jika ada orang teater mengeluhkan tempat latihan, gedung pertunjukan, subsidi pemda yang terlalu kecil dan apresiasi penonton yang buruk, maka dia adalah orang teater yang malas. Mungkin lebih baik dia bekerja di bidang lain. Dunia teater tak cocok baginya. Selalu mengharapkan bantuan hanya sifat manja. Dengan adanya subsidi, memang kondisi teater menjadi agak lebih baik. Tapi itu bukan satu-satunya penyebab lahirnya teater yang baik.

    Teater tidak harus lahir di pusat-pusat kesenian. Dia bisa lahir di pojok-pojok tempat pelacuran, di gudang sumpek, di tanah lapang yang becek, di hall penjara, atau di jalanan. Segalanya mungkin. Dan hanya orang teaterlah yang bisa melahirkan kegiatan berteater.

    Jadi, persoalannya memang hanya; mau atau tidak? Mampu atau tidak? Sesudah mau dan mampu, pertanyaan berikut adalah; punya daya tahan atau tidak? Jika tidak punya stamina, tanpa disuruh berhenti pun akan segera minggir dan menghentikan semua kegiatan berteater. Dan teater tak pernah kuatir karenanya. Hilang satu, yang lain akan segera menggantikan.

    Kelompok teater yang kompak bisa menjawab tantangan semacam itu. Orang teater yang teguh hati akan terus bekerja dan tidak mudah putus-asa.

    Dengan sigap dia akan menggantikan sesuatu yang sukar diperoleh dengan alternatif yang punya nilai estetik dan artistik serupa. Dia akan tahan menghadapi hantaman badai waktu dan dengan gembira tetap bekerja. Dia akan tampil dengan tegar dan jiwa besar, meski pakaian dan kehidupannya compang-camping. Keseniannya bagai rangkaian upacara ritual yang memang sulit dilaksanakan tapi bukan berarti kemandekan. Dia bekerja. Kesimpulan-kesimpulannya adalah hasil kerjanya dan bukan hanya keinginan di dalam hati atau di atas kertas saja. Kenikmatan-kenikmatan artistik yang diperoleh adalah kenikmatan yang tuntas. Kenikmatan ketika sambil tersenyum dia berkata, ‘Dan kesulitan mana lagi yang harus saya hadapi?’

    Baginya, teater merupakan kawasan tanpa istirahat. Teater bak peperangan tanpa selesai, yang akan dilewati tanpa keluh kesah, tanpa kerut dahi.

    Di dunia teater, mungkin dia seniman. Tapi di luar dunia teater, dalam kehidupan sehari-hari, dia juga manusia, anggota dari masyarakat yang lebih besar. Manusia yang lebur dalam persoalan yang juga dialami oleh mereka yang tidak bekerja di dunia teater. Dia tak akan mengeluh jika diberi tugas oleh ketua RT/RW untuk ikut siskamling atau kerja bakti, misalnya. Sebagai anggota kelompok masyarakat, semua orang memiliki tugas dan kewajiban sosial yang harus dikerjakan. Tak ada prioritas. Orang teater sejati, tidak akan mengasingkan diri. Dia ada dan hadir di tengah masyarakatnya. Sebab, justru di